30 April || Peringatan St.Pius V
Paus
yang kudus ini dilahirkan di Italia pada tahun 1504. Ia dibaptis dengan
nama Antonius Ghislieri. Antonius sungguh ingin menjadi seorang imam,
tetapi tampaknya angan-angannya itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Orangtuanya miskin. Mereka tidak punya cukup uang untuk
menyekolahkannya. Suatu hari, dua orang imam Dominikan datang ke
rumahnya dan bertemu dengan Antonius. Para imam itu amat suka kepadanya
hingga mereka bersedia mengurus pendidikannya. Demikianlah, pada usia
empat belas tahun, Antonius bergabung dalam Ordo Dominikan. Ia memilih
nama “Mikhael”. Setelah menamatkan studinya, ia ditahbiskan sebagai
imam. Kemudian ia ditahbiskan pula sebagai uskup dan kardinal.
Dengan
gagah berani ia mempertahankan ajaran-ajaran Gereja dari mereka yang
berusaha menentangnya. Ia senantiasa hidup dengan bermatiraga. Ketika
usianya enam puluh satu tahun, ia dipilih menjadi paus. Ia memilih nama
Paus Pius V. Dulu ia seorang bocah penggembala domba yang miskin.
Sekarang ia adalah pemimpin tertinggi Gereja Katolik di seluruh dunia.
Walaupun demikian, paus tetap rendah hati dan sederhana seperti sedia
kala. Ia masih mengenakan jubah Dominikan-nya yang putih, jubah tua yang
selama ini dikenakannya. Dan tak seorang pun dapat membujuknya untuk
menggantinya.
Paus
Pius V harus menghadapi banyak tantangan. Ia menimba kekuatan dari
salib Yesus. Setiap hari ia merenungkan sengsara dan wafat Kristus. Pada
waktu itu, bangsa Turki berusaha menguasai seluruh wilayah Kristen.
Mereka mempunyai armada angkatan laut yang hebat di Laut Tengah. Bala
tentara Kristen bertempur melawan mereka di suatu wilayah yang disebut
Lepanto, dekat Yunani. Sejak saat bala tentaranya keluar untuk
berperang, Bapa Suci terus-menerus berdoa rosario. Ia mendorong umatnya
untuk melakukan hal yang sama. Puji syukur atas bantuan Bunda Maria,
bala tentara Kristen menang mutlak atas musuhnya. Sebagai ungkapan
terima kasih kepada Bunda Maria, St. Pius V menetapkan Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario yang kita rayakan setiap tanggal 7 Oktober.
Paus
Pius V wafat di Roma pada tanggal 1 Mei 1572. Pestanya dirayakan pada
hari ini karena tanggal 1 Mei adalah pesta St. Yusuf Pekerja. Pius V
dinyatakan kudus oleh Paus Klemens XI pada tahun 1712.
3 Maret || Beata Katharina Drexel
Ketika
Katharina tumbuh dewasa, ia menjadi gadis Katolik yang aktif. Ia murah
hati dengan waktu, tenaga serta uangnya. Ia sadar bahwa Gereja mempunyai
banyak kebutuhan. Ia memberikan tenaga serta hartanya kepada mereka
yang miskin, mereka yang terlupakan. Karya kasihnya bagi Yesus
dilakukannya di antara orang-orang Afrika Amerika dan pribumi Amerika.
Pada tahun 1891, Katharina membentuk suatu komunitas misionaris religius
yang disebut Suster-suster dari Sakramen Mahakudus. Sejak itu Katharina
dikenal sebagai Moeder Katharina.
Para
biarawati dalam ordonya memusatkan hidup mereka pada Yesus dalam
Ekaristi. Mereka membaktikan diri, dengan segala cinta serta bakat-bakat
mereka, bagi orang-orang Afrika dan pribumi Amerika. Moeder Katharina
memperoleh bagian warisan keluarganya. Ia mempergunakan harta yang
diperolehnya itu bagi kepentingan karya cinta kasih yang mengagumkan. Ia
beserta para biarawatinya membuka sekolah-sekolah, biara-biara serta
gereja-gereja misionaris. Pada tahun 1925, mereka mendirikan Universitas
Xaverius di New Orleans. Sepanjang hidupnya yang panjang, yang
menghasilkan buah-buah melimpah, Moeder Katharina menghabiskan jutaan
dollar harta keluarga Drexel bagi karya-karya menakjubkan yang ia serta
para biarawatinya lakukan bagi mereka yang miskin. Ia percaya bahwa ia
menemukan Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi. Demikian juga, ia
menemukan Yesus sungguh hadir dalam orang-orang Afrika dan pribumi
Amerika yang dilayaninya dengan penuh kasih.
Moeder
Katharina wafat pada tanggal 3 Maret 1955, pada usia sembilanpuluh
tujuh tahun. Ia dinyatakan sebagai `beata' oleh Paus Yohanes Paulus II
pada tanggal 20 November 1988.
27 Februari || St. Gabriel dari Bunda Dukacita
Dua
kali Fransiskus sakit parah hingga hampir kehilangan nyawanya. Setiap
kali ia berjanji kepada Bunda Maria bahwa jika Bunda Maria mau
mengusahakan kesembuhannya, ia akan menjadi seorang yang religius.
Sungguh, dua kali itu ia sembuh dari penyakitnya, tetapi Fransiskus
tidak menepati janjinya.
Suatu
hari, Fransiskus melihat lukisan Bunda Dukacita sedang diarak dalam
suatu prosesi. Tampak olehnya, Bunda Maria menatap langsung kepadanya.
Pada saat yang sama, ia mendengar suatu suara dalam hatinya yang
mengatakan, “Fransiskus, dunia ini bukan lagi untukmu.” Dan begitulah.
Fransiskus masuk biara Passionis. Usianya delapanbelas tahun. Nama yang
dipilihnya adalah Gabriel dari Bunda Dukacita.
Cinta
Grabriel yang terdalam ditujukan kepada Ekaristi Kudus dan Maria, Bunda
Dukacita. Ia suka menghabiskan waktu dengan merenungkan sengsara Yesus
dan betapa Yesus telah banyak menderita untuknya. Grabriel juga melatih
diri dalam dua keutamaan dengan cara yang istimewa, yaitu kerendahan
hati dan ketaatan. Yang menjadi ciri khasnya adalah sukacita. Ia selalu
bergembira dan menyebarkan kegembiraan itu kepada mereka yang ada di
sekitarnya. Hanya setelah empat tahun tinggal dalam biara Passionis,
Gabriel wafat pada tanggal 27 Februari 1862. Ia dinyatakan kudus pada
tahun 1920 oleh Paus Benediktus XV.
26 Februari|| St. porphyrius
Porphyrius
dilahirkan pada abad kelima dalam keluarga bangsawan yang kaya. Ia
meninggalkan keluarganya ketika ia berusia duapuluh lima tahun.
Porphyrius pergi ke Mesir untuk menggabungkan diri dalam sebuah biara.
Setelah lima tahun, ia mengadakan perjalanan ke Yerusalem. Ia ingin
mengunjungi tempat-tempat di mana Yesus pernah berada semasa hidup-Nya
di dunia.
Porphyrius
amat terkesan dengan Tanah Suci. Kasihnya kepada Yesus membuatnya
semakin sadar akan penderitaan kaum miskin. Di rumahnya di Tesalonika,
ia tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi miskin. Ia masih memiliki
segala yang diwariskan orangtuanya kepadanya, tapi tidak untuk jangka
waktu yang lama. Ia meminta temannya - Markus - untuk pergi ke
Tesalonika dan menjual segala harta miliknya. Setelah tiga bulan, Markus
kembali dengan uang. Porphyrius lalu membagi-bagikannya kepada mereka
yang sungguh membutuhkannya.
Pada usia empatpuluh tahun Porphyrius ditahbiskan
sebagai imam dan kepadanya dipercayakan pemeliharaan reliqui salib asli
Yesus. Porphyrius selanjutnya ditahbiskan sebagai Uskup Gaza. Ia
bekerja giat untuk menghantar banyak orang percaya kepada Yesus dan
menerima iman. Tetapi, kerja kerasnya menghasilkan buah amat lambat dan
membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Mayoritas penduduk pada waktu
itu bertaut pada praktek-praktek kafir dan takhayul. Meski Porphyrius
dapat mengakhiri banyak dari praktek-praktek ini, ia juga mendapat
banyak musuh yang membuatnya banyak menderita. Yang lain, yang adalah
umat Kristiani, amat mengasihi dan mengagumi Porphyrius. Mereka berdoa
dan bermatiraga untuknya. Mereka memohon Tuhan untuk menjaga dan
melindunginya. Uskup Porphyrius menghabiskan bertahun-tahun lamanya guna
memperkuat komunitas Kristiani. Ia memaklumkan dengan tegas segala yang
diyakini teguh umat Kristiani. St Porphyrius wafat pada tahun 420.
25 Februari || Santo Walburga, Abbas
Ketika berumur 11 tahun, Walburga dididik di biara Benediktin,
Wimborne di Dorsetshire, Inggris. Kemudian dia diterima sebagai anggota
biara itu. Ia tetap tinggal di biara Wimborne sampai tahun 748 sambil
membantu santo Bonifisius mendirikan biara biara di beberapa daerah
Jerman yang baru di Kristenkan. Kemudian ia pergi ke Jerman dan menjadi
Abbas untuk para biarawati yang mendiami biara Benediktin di
Heidenheim yang didirikan oleh saudaranya Santo Winebald. Sesudah
Winebald meninggal dunia pada tahun 761, Walburga menjadi abbas untuk
seluruh biara yang ada di Jerman. Ia melayani biara biara ini hingga
kematiannya pada tahun 779 di Heidenheim, Jerman.
Semenjak abad ke sembilan, nama Walburga terkenal luas di kalangan
umat Jerman karena semacam minyak pengobatan penyakit, yang mengalir
dari batu padas di bawah tempat duduknya di Gereja Salib Suci
Eichstatt, Jerman. Minyak ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
24 Februari||St. Montanus, St Lucius, dkk
Kaisar Valerianus menganiaya umat Kristiani dengan bengis sepanjang masa Gereja awali. Ia meluluskan eksekusi St Siprianus
pada bulan September 258. Pejabat Romawi yang menjatuhkan hukuman mati
kepada St Siprianus tewas tak lama sesudahnya. Pejabat yang baru, Solon,
nyaris menjadi kurban dari suatu pemberontakan yang menyangkut suatu
persekongkolan untuk menghabisi nyawanya. Tampaknya Solon mencurigai
persekongkolan ini sebagai bentuk balas dendam atas kematian St
Siprianus. Ia menangkap delapan orang tak bersalah. Semuanya adalah
orang-orang Kristen, sebagian besar adalah kaum klerikus, dan semuanya
adalah pengikut setia St Siprianus.
Tahanan
Kristen itu dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang gelap. Mereka
mendapati orang-orang lain yang mereka kenal ada dalam penjara. Kotor
dan pengap melingkupi kelompok tahanan ini. Mereka sadar bahwa mereka
akan segera menghadapi kematian dan kebakaan. Orang-orang Kristen itu
ditahan berbulan-bulan lamanya dalam penjara. Mereka dipaksa bekerja di
siang hari, dan tanpa sebab seringkali tak diberi makan dan minum. Dalam
situasi yang tak berperikemanusiaan macam itu, komunitas kecil umat
Kristen ini bersatu padu dan saling tolong-menolong satu sama lain. Yang
awam melindungi para uskup, imam dan diakon yang secara istimewa
merupakan sasaran kekejian kaisar.
Ketika
tahanan Kristiani pada akhirnya dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman
mati, masing-masing diijinkan untuk berbicara. Montanus, yang tinggi
kekar, berbicara dengan gagah berani kepada segenap umat Kristiani yang
ada di antara khalayak ramai. Ia menasehati mereka untuk setia kepada
Yesus dan untuk lebih memilih mati daripada mengingkari iman. Lucius,
yang kecil dan rapuh, berjalan tertatih-tatih ke tempat eksekusi. Ia
lemah akibat masa-masa berat dan sulit di penjara. Sesungguhnya, ia
harus bertopang pada dua teman yang membantunya tiba di tempat di mana
para algojo telah menanti. Mereka yang menyaksikan berseru-seru
memintanya untuk mengingat mereka di surga.
Sementara
tahanan Kristen ini seorang demi seorang dipenggal kepalanya, khalayak
ramai semakin berani. Mereka menangisi para martir yang menderita
ketidakadilan. Tetapi mereka bersukacita juga. Mereka sadar bahwa para
martir ini akan memberkati mereka dari surga. Montanus, Lucius dan
kawan-kawan wafat sebagai martir pada tahun 259.
Kebaikan
dan kasih satu sama lain menandai hidup para kudus ini. Pada hari ini,
kita dapat memikirkan untuk melakukan suatu yang baik bagi seseorang
dengan siapa kita merasa sulit untuk bergaul.
3 Januari || St. Genoveva
Penduduk
Paris bersiap-siap hendak melarikan diri dari suatu balatentara ganas
yang datang untuk menyerang mereka. Genoveva tampil. Ia membangkitkan
semangat warga kota agar mengandalkan Tuhan. Ia mengatakan bahwa jika
mereka melakukan matiraga, maka mereka akan dibebaskan. Orang-orang
percaya dan melakukan apa yang dikatakannya, dan balatentara Hun yang
ganas sekonyong-konyong berbalik kembali. Mereka tidak menyerang kota
sama sekali.
St.
Genoveva mengamalkan belas kasihan dan ketaatan pada kehendak Allah
setiap hari sepanjang hidupnya, bukan hanya pada waktu kesesakan. Tak
pernah ia menyerah dalam melakukan sebanyak mungkin kebajikan. Kesetiaan
kepada Yesus dan keberanian adalah karunia-karunia istimewa yang
menjadi kesaksian hidup yang ditinggalkan Genoveva bagi kita.
Salah
satu cara terbaik yang dapat kita lakukan bagi negara kita adalah
berdoa bagi para pemimpin negara. Kita mohon pada Tuhan untuk membimbing
mereka demi kebaikan kita semua.
St.
Genoveva memberikan teladan kesetiaan dan keberanian dalam mengandalkan
Tuhan, teristimewa dalam masa-masa sulit di negaranya. Berdoa bagi para
pemimpin negara merupakan salah satu cara yang dapat kita lakukan bagi
negara kita, memohon Tuhan agar membimbing mereka dalam membuat
keputusan-keputusan yang tepat bagi kebaikan semua orang.
2 Januari || St. Basilius Agung & St. Gregorius dari Nazianze
St. Gregorius dari Nazianze
|
St. Basilius Agung
|
Basilius
dan Gregorius dilahirkan di Asia Kecil pada tahun 330. Sekarang daerah
tersebut dikenal dengan nama Turki. Keluarga Basilius: nenek,
ayah, ibu, dua saudara serta seorang saudarinya semuanya adalah orang
kudus. Sedangkan orangtua Gregorius adalah St. Nonna dan St. Gregorius
Tua. Basilius dan Gregorius saling bertemu dan menjadi sahabat karib di
sekolah di Athena, Yunani.
Basilius kemudian menjadi seorang guru yang tersohor. Suatu hari, saudarinya yaitu St. Makrina, menyarankan agar ia
menjadi seorang biarawan. Basilius mendengarkan nasehat baik
saudarinya, pergi ke tempat yang sunyi dan di sana mendirikan biaranya
yang pertama. Regula (=peraturan biara) yang ditetapkannya bagi para
biarawannya amatlah bijaksana. Biara-biara Gereja Timur masih
menerapkannya hingga saat ini.
Keduanya,
Basilius dan Gregorius, menjadi imam dan kemudian Uskup. Mereka dengan
berani berkhotbah menentang bidaah Arianisme yang menyangkal bahwa Yesus
adalah Tuhan. Ajaran sesat ini membingungkan banyak orang. Ketika
menjadi Uskup Konstantinopel, Gregorius mempertobatkan banyak orang
dengan khotbah-khotbahnya yang mengagumkan. Hal itu membuatnya hampir
saja kehilangan nyawanya. Seorang pemuda berencana untuk membunuhnya.
Pada saat-saat terakhir, pemuda tersebut bertobat serta memohon
pengampunan dari Gregorius. St. Gregorius sungguh mengampuninya serta
membawanya ke jalan yang benar dengan kelemahlembutan serta kebaikan
hatinya.
Empatpuluh
empat khotbah St. Gregorius, 243 suratnya, serta banyak puisinya
kemudian diterbitkan. Buah penanya masih amat penting hingga saat ini.
Banyak penulis mendasarkan karya-karya mereka pada buah penanya itu.
Basilius,
sahabat Gregorius, seorang yang amat lembut serta murah hati. Ia selalu
menyediakan waktu untuk menolong kaum miskin papa. Ia bahkan mendorong
orang-orang miskin itu untuk menolong mereka yang lebih miskin dari
mereka sendiri. “Berikanlah makanan terakhirmu kepada pengemis yang
mengetuk pintumu,” desaknya, “dan percayalah akan belas kasihan Tuhan.”
Basilius menyumbangkan segala miliknya dan membuka sebuah dapur umum. Di
sana orang sering melihatnya mengenakan celemek dan melayani mereka
yang lapar. Basilius wafat pada tahun 379 dalam usia empatpuluh sembilan
tahun. Sementara Gregorius wafat pada tahun 390 dalam usia enampuluh
tahun. Ia dimakamkan di Basilika St. Petrus di Roma.
Kita
tidak akan pernah menyesal mempergunakan pengetahuan, waktu, serta
bakat-bakat kita untuk membantu orang-orang di sekitar kita semakin
dekat dengan Tuhan.
Semoga
teladan serta ajaran St. Basilius dan St. Gregorius senantiasa
mendorong kita “untuk menyatakan kebenaran di dalam kasih” (Ef 4:15).
Biarlah semangat tersebut menjadi doa kita pada hari ini.
23 Desember || St Yohanes dari Kanty
Sebagian
orang merasa amat iri atas keberhasilan St Yohanes sebagai seorang guru
dan pengkhotbah. Akhirnya mereka berhasil membuat dia dikirim ke sebuah
paroki sebagai seorang pastor paroki. Di sini, St Yohanes memberikan
segenap hatinya ke dalam kehidupan baru ini. Tetapi, pada awalnya,
segalanya tidak berlangsung mulus sama sekali. Orang tidak ambil peduli
pada P Yohanes dan P Yohanes takut akan tanggung jawabnya. Namun
demikian, ia pantang menyerah; dan daya upayanya pun membuahkan hasil.
Pada saat ia dipanggil kembali ke univesitas, umat paroki telah begitu
mengasihinya. Mereka mengantarnya hingga separuh perjalanan.
Sesungguhnya, mereka begitu sedih membiarkannya pergi sehingga St
Yohanes harus mengatakan kepada mereka, “Kesedihan ini tidak
menyenangkan Tuhan. Jika aku telah melakukan sesuatu yang baik bagi
kalian sepanjang tahun-tahun ini, marilah menyanyikan sebuah lagu
sukacita.”
Kembali
di Krakow, St Yohanes mengajar kelas Kitab Suci dan lagi, ia menjadi
seorang guru yang amat populer. Ia diundang ke rumah-rumah para
bangsawan yang kaya. Tetapi, masih saja, ia memberikan segala yang
dimilikinya kepada orang-orang miskin dan berpakaian seperti orang
miskin pula. Suatu ketika ia mengenakan sehelai jubah hitam yang usang
ke sebuah perjamuan. Para pelayan tidak memperbolehkannya masuk. St
Yohanes pun pulang dan berganti mengenakan sehelai jubah baru. Dalam
perjamuan, seseorang menumpahkan makanan ke atas jubah barunya. “Tak
apa,” kata orang kudus kita ini dengan bergurau, “bagaimanapun, jubahku
pantas mendapatkan makanan, sebab tanpa jubah ini, aku tidak akan berada
di sini sama sekali.”
St
Yohanes hidup hingga usianya yang ke delapanpuluh tiga. Lagi, dan lagi,
sepanjang hidupnya ia membagi-bagikan segala yang ia miliki demi
menolong orang-orang miskin. Ketika orang banyak mencucurkan airmata
mendengar bahwa ia di ambang maut, St Yohanes berkata, “Janganlah
khawatir akan penjara yang akan binasa ini. Tetapi, pikirkanlah jiwa
yang akan segera meninggalkannya.” Ia wafat pada tahun 1473 dan
dimaklumkan sebagai seorang santo oleh Paus Klemens XIII pada tahun
1767.
“Bersama
kerendahan hati [St Yohanes] mengalir pula kesederhanaan yang bersahaja
dan kepolosan; pikiran hatinya diungkapkannya dalam kata-kata dan
tindakan. Allah yang ada dalam hatinya dan Allah yang ada dalam bibirnya
adalah Allah yang satu dan sama.” ~ Paus Klemens XII




